Rabu, 25 Februari 2015

Kepikiran Bikin Video

Halo semuanya! kali ini gue mau sedikit sharing tentang keresahan gue. Beberapa hari ini gue lagi liburan semester kuliah yang berarti gue punya cukup banyak waktu buat gue habisin dengan tidak bermanfaat. misalnya nontonin video di youtube. Dari situ, gue merasa bahwa banyak sekali orang-orang yang mengupload videonya dengan konsep dari diri mereka masing-masing. Beberapa ada yang bener-bener lucu dan menarik, beberapa berakhir dengan "video apaan ini!!!" terlepas dari itu semua, gue tetap mengapresiasi hasil usaha mereka. Meskipun itu ngeselin.

Menurut gue sendiri, beberapa video yang ngeselin itu sebenarnya cukup menarik untuk disimak karena bene-bener diambil dari kehidupan sehari-hari yang ada di masyarakat sosial. Sayangnya mereka mengemasnya dengan cara yang menurut gue terlalu berlebihan. seperti penggunaan backsound yang terlalu standard atau penggunaan efek video yang terlalu berlebihan. Inilah yang memicu gue buat ikutan bikin video.

Gue sendiri merasa banyak sekali ide yang bisa diambil. Misalnya dari materi stand up komedi para komika Indonesia. Di sini gue kepingin memvisualisasikan bit-bit mereka ke sebuah video pendek. Bukan video panjang juga, sih. Sasaran gue buat video di Instagram yang maksimal 15 detik. Masalahnya gue kekurangan orang untuk merealisasikan hal itu. Gue meminta bantun temen-temen untuk ikut mengobati rasa resah gue selama ini. Tapi ini adalah proyek "seikhlasnya" jadi ngga ada bayaran untuk tiap peran yang temen-temen ambil karena gue sendiri budgetnya pas-pasan. 

Konsepnya begini: seperti yang gue bilang tadi, gue bakal ngambil materi dari komika, tentunya setelah mendapat ijin dari orang bersangkutan, untuk memindahkannya dalam bentuk visual. Videonya bukan video yang panjang, paling cuma 15 detik biar bisa dibagi di Instagram nantinya. Untuk konsep videonya tergantung nanti materi apa yang gue pake nanti. Yang pasti gue pengin yang elegan dan dewasa karena itulah video yang pengin gue tonton selama ini. Gue juga nggak memaksa buat pake kamera yang kualitas tinggi dan juga lighting wah. Menurut gue ngga masalah pake kamera handphone karena memang budgetnya pas-pasan. yang penting hasil dari penyampaian video itu mulus.

Yang gue butuhkan: jelas yang utama adalah pemeran sketsanya. Gue sendiri sepertinya ngga bakal ikut main di sketsanya karena dua faktor: gue ngga bisa akting dan gue ngga kepingin orang mengira ini video misteri dengan adanya muka gue di situ. Selain pemain, gue juga butuh orang yang mau bantuin gue buat edit videonya.

itu aja, sih, yang gue butuhkan. Untuk kembali mengingatkan, ini adalah proyek seru-seruan. jadi jangan terlalu berharap profit kalau mengikuti proyek gue ini. Tapi gue bakal bersyukur banget kalo gue bisa menghasilkan profit dari kreatifitas. Mungkin itu yang bisa gue share bareng temen-temen semua. Kalo dari dari temen-temen ada yang berminat untuk ikut di proyek gue ini, bisa tulis di kolom komen atau kirim ke email gue. Gue berharap banget bantuan temen-temen semua buat bantuin gue karena gue yakin ini bakal keren banget. Kalo kalian emang punya passion di akting, kalian bisa jadi pemeran di proyek ini. Atau kalau kalian lebih punya passion di belakang layar, masih banyak peran seperti video editor, kameramen, penulis skenario, atau director buat bantuin gue ngedirect pemainnya nanti.

oh, iya. Sebagai informasi, karena gue domisili di Semarang, gue bakal lebih konsentrasi orang-orang yang mau bantuin gue bikin proyek ini di Semarang. Buat yang ngga punya waktu buat ke Semarang, semoga gue punya cukup duit buat bikin video di luar Semarang. Terima kasih :)

Senin, 11 Agustus 2014

Postingan Senin Pagi



selamat pagi! Hari-hari terakhir setelah liburan puasa dan lebaran. Sebentar lagi gue bakal memasuki semester lima dalam kuliah gue. benar-benar nggak kerasa udah tiga tahun gue menghabiskan beberapa waktu gue untuk mengisi tulisan di blog ini. Gue inget banget pertam kali gue nulis di blog ini karena terinspirasi oleh Raditya Dika, dan sampai sekarang, akhirnya gue memutuskan untuk menulis draft novel gue. meski udah dua tahun gue nulis dan masih belum selesai juga.

Gue masih inget sejak SMA gue emang udah pengin nulis novel gue sendiri, tentu saja bertema komedi. Bedanya sekarang dulu gue nggak tahu harus memulai dari mana. Dulu gue pengin nulis novel sekedar pengin berbagi cerita gue sendiri ke orang-orang. Sekarang gue nulis agar gue nggak punah. Seiring berjalannya waktu memang bisa mengubah segalanya. Sekarang gue balik lagi ke tumpukan draft novel dan outline yang udah gue tulis dari dua tahun yang lalu. Saking lamanya nggak gue buka, begitu gue tiup sampul bukunya gue langsung kena asma karena terlalu banyak menghirup debu.

Beberapa bulan ini pun gue sering belajar tentang karakterisasi dalam penulisan. Gue makin sering baca novel dan nonton film. Memang begitu kehidupan jomblo. Gue selalu inget apa kata Raditya Dika di tiap talkshow menulisnya “selamat siang semuanya!”
Eeh…
Kayaknya gue salah kutip. Mari diulang
Gue selalu inget apa kata Radit di tiap talkshow menulisnya “untuk bisa menulis dengan bagus, banyaklah juga membaca”. Serial The Big Bang Theory menjadi TV seri faforit gue selama ini. Gue mengulang tiap episode di tiap season-nya untuk mempelajari bagaimana menulis komedi yang jujur. Selain film tersebut, gue juga menonton beberapa film romantic comedy dan gue jatuh hati pada My Sassy Girl (2008). Film yang berupa remake dari film korea dengan judul yang sama ini bikin gue makin jatuh cinta sama Alisha Cuthberth. My God! She is so damn hot! Gue pertama kali melihat Alisha di film Girl Next Door dan gue mulai menyukainya. Setelah nonton My Sassy Girl, gue resmi menaruh dia menjadi actress favorit gue di atas Maudy Ayunda yang menjadi nomor dua. Sengaja gue kasih nomor biar kalo suatu saat mereka berdua nembak gue bebarengan gue tahu mana yang lebih gue prioritaskan buat jadi pacar gue.


Selasa, 29 April 2014

Cerita yang Dapetnya Kemaren Sore



Setelah lama nggak ngisi blog ini, akhirnya dapet bahan juga gue buat dimasukin. Untuk mengawali cerita gue, lebih baik gue kasih tahu sedikit tentang diri gue sendiri. gue itu orangnya suka memperhatikan hubungan pacaran antara cowok dan cewek. Bagaimana mindset mereka ketika mereka dalam satu hubungan yang disebut pacaran. Dari dua sudut pandang tersebut, gue merasa sudut pandang cewek lebih menarik dan lebih abstrak. Memperhatikan cewek seperti main puzzle yang nggak bakal bisa dipecahkan. Kita harus menjadi cewek untuk bisa memahami pikiran cewek. Dan kebetulan gue baru dapet satu lagi cerita tentang cewek yang baru terjadi kemarin. Masih bener-bener fresh.

Jadi ceritanya kemarin gue setelah selesai ujian gue santai-santai bentar di kampus sama temen gue. nggak lama ada temen cewek gue, sebut saja namanya Dita, dateng nyamperin gue sama Andy, yang nongkrong bareng gue. agak aneh sih lihat Dita dateng ke kampus di luar jam kuliah dia, soalnya dia bukan tipe orang yang suka nongkrong di kampus lama-lama. Setelah gue tanyain ternyata doi lagi nungguin pacar yang lagi ujian waktu itu. Berhubung jarang ngumpul sama Dita, bahan pembicaraan agak susah dicari, tapi kebetulan si Andy nanya foto cewek yang ada di hanphone si Dita.

“ini temen lu, Dit?”

“iya.”

“namanya siapa? Udah punya pacar belum?”

“namanya Farah. Udah punya, sih, tapi mau gue provokasi biar putus sama pacarnya”
 Dari omongan Dita, rasa ingin tahu gue tiba-tiba muncul.

“emang kenapa lo kepengen dia putus” gue nanya sambil siap-siap nyatet semua argumennya.

“ya habis cowoknya lenje-lenje banget, sih”

“emang lenje-lenje kayak gimana?” sekarang gue lebih mirip wartawan yang lagi ketemu narasumber. Rasanya pengen terus ngorek informasi dari Dita dengan sangat dalam.

“ya kayak gitu. Nggak kayak cowok sesungguhnya lah pokoknya”

“ya kan lenje-lenje ada banyak macemnya. Apa lenje-lenjenya itu suka pake eye-liner. Atau dia takut sama kecoa terbang. Atau ikut boyband. Itu semua cowok lenje-lenje” setelah ngomong kayak gitu gue baru merasa hilaf mengatakan cowok yang takut sama  kecoa terbang itu lenje-lenje padahal faktanya nggak ada satu orang pun yang berani sama kecoa terbang.

“bukan gitu. Dia sebagai cowok gampang banget ngalah sama ceweknya. Bahkan dia terus-terusan minta maaf sama ceweknya. Oke, deh, kalo dia yang salah. Lagi dibentak dikit sama pacarnya aja dia langsung minta maaf”

Di saat itu gue sedikit bingung dengan Dita. Dia seperti enggak tahu bahwa cowok yang sedang dalam hubungan pacaran sama ceweknya, sudah ada seperti mesin yang bakal secara otomatis merangsang mulut untuk mengatakan maaf kalo ceweknya kelihatan sedikit  kesel sama dia. Merasa diperlukan, gue ngasih penjelasan ke Dita tentang auto-pilot saraf cowok tersebut.

“kan emang tugas kita emang kayak gitu! Selalu ngalah sama cewek. Nggak mungkin dong cowok ngotot sama cewek. Kalo cowok mau terus-terusan ngalah sama cewek, itu berarti cowoknya bener-bener sayang sama ceweknya”

“ya enggak dong. Cowok kan yang bakal jadi kepala keluarga. Kalo semua yang diomongin cewek diturutin, cowoknya malah yang bakal habis”

Gue sedikit bingung di sini. Bukan dia yang menjalani hubungan, tapi dia yang ciprik ngurusin hubungan mereka. Nggak cuman ciprik, bahkan sampek mau bikin hubungan mereka putus. Dita yang enggak ada sangkut pautnya dalam hubungan itu, masih juga nganggep kelakuan cowok itu salah. Mungkin itu yang sudah tertanam dalam otak cewek bahwa cowok nggak boleh bener. Iya. Nggak boleh!

Nggak lama gue ngobrol sama Dita, akhirnya pacarnya dateng dan ikut duduk bentar barang gue dan Dita. Sesaat mereka membahas urusan mereka berdua. Tapi ada satu kejadian yang menarik dari mereka berdua. Tiba-tiba Dita ngomong sama pacarnya

“kamu bisa nggak, sih, nggak bantah omonganku. Diem gitu loh! Nurut gitu! Aku pengen pacarku itu jadi penurut, nggak kebanyakan bantah. Nyebelin banget, sih!”

Dan cerita sore itu diakhiri dengan gue yang mangap nggak percaya.

Sekian.

Senin, 31 Maret 2014

Setelah Satu Tahun



Gua baru saja memarkir mobil tidak jauh dari pintu utama kafe yang sudah gua janjikan dengan Feni. Gua kembali melihat handphone untuk memastikan apakah ada pesan masuk atau tidak sembari berjalan menuju pintu kafe. Seperti biasa gua, datang lebih telat dari jam yang udah gua janjikan sebelumnya. Gua celingak-celinguk mencari Feni duduk dengan penuh konsentrasi sampai tanpa gua sadari kalau udah ada pelayan yang berada di depan gue. Gua kira dia mau ngusir gue karena penampilan gue yang lebih mirip gembel. Ditambah lagi gue yang langsung celingak-celinguk waktu masuk kafe itu seperti maling yang salah nyari tempat sembunyi.

“Permisi, kak, mau meja untuk berapa orang?” Tanya pelayan. Beruntung gue enggak langsung diusir sama pelayan.

“eh… buat…” belum selesai gua menjawab pelayan, gua lihat lambaian tangan feni menunjukan dia udah neglihat gue. “ah! Saya udah sama itu, mas.”

Gua pun jalan menghampiri Feni yang duduk sendirian. Mas-mas pelayan ngikutin gue dari belakang. Sepertinya dia bakal ngikutin apapun yang gue lakuin. Bahkan kalo gue belok ke kamar mandi pun dia tetep bakal ngikutin. Awalnya gue mereasa risih, tapi lama-lama niat iseng gue pun keluar. Gue pengen coba melakukan manufer ekstrim seperti koprol dengan satu tangan untuk mencoba seberapa cakap mas-mas itu bisa mengikuti gue. Tapi gue batalkan karena gue sendiri nggak bisa koprol.

Minggu, 03 November 2013

Postingan yang Isinya Paling Mellow

Memandang, menikmati lengkungan bibirmu. Tak pernah sebelumnya saya merasa senang hanya dnegan melihat senyum dari bibir orang lain. Mendengar tawamu pun seperti menjadi obat hati yang selama ini aku cari. Aku bisa jelas menggambarkan dirimu waktu dengan semua detil yang kamu inginkan. Baju gamis warna abu-abu gelap. Kerudung dengan warna yang sama, hanya sedikit lebih terang dari warna pakaianmu. Pipi halus yang terkadang memerah saat tanpa sengaja kulitku menyentuh kulitmu. Bekas tetesan air yang jatuh di sekitar bagian paha saat tanpa sengaja gelas yang kau pegang meneteskan keringatnya karena dingin air es yang tak mampu menerima hawa panas yang menyengat waktu itu. sedetil itu? aku bahkan belum sepenuhnya menggambarkan wajahnya. Jangan terlalu memuji hapalanku, aku hanya memutar ulang rekaman yang ada di otakku.

Tak pernah aku mencoba menghafalkan pengalaman itu sebelumnya. Aku hanya tidak dapat melupakannya. Tak bisa aku melupakan suaramu saat menyapaku sembari mencoba masuk ke dalam mobil yang aku parkir tak jauh dari rumahmu. Bagaimana aku bisa lupa saat melihatmu berjalan menghampiri mobil yang ku kendarai karena saat itu aku bagai orang yang baru benar-benar bangun dari tidur yang sangat lama. Tak mungkin aku dengan mudah melupakan suara tawa kecilmu yang mengisi ruangan antara aku dan kamu.

Aku mencoba membuat semuanya sempurna sebelumnya. Aku sudah menyiapkan playlist yang berisi lagu yang kamu suka agar kamu betah berada dalam mobil meski Cuma berkendara berdua. Sebelumnya juga aku sudah menyemprotkan pengharum ruangan dalam mobil. Tidak begitu banyak agar kamu tidak batuk saat pertama menghirup bau parfum ruangan itu karena bau yang terlalu tajam. Tidak juga sekedarnya karena aku takut kamu tak betah mencium bau tak sedap yang terkadang sudah terlanjur menempel di mobilku. Semuanya pas. Tak ada maksud lain kecuali agar semuanya sempurna. Tapi aku lupa bahwa semua itu percuma karena dirimu lah yang membawa kesempurnaan itu sendiri.


Tak ada yang lebih menyenangkan selain menjabat tanganmu sesaat sebelum kamu turun dari kendaraanku. Membawa pulang memori tentang aku dan kamu. Tidak ada benda hidup lain yang mengganggu kita berdua. Semua itu terasa begitu menyenangkan. tak bisa aku berhenti tersenyum sampai akhirnya aku mendapati mataku sedang melihat kembali dunia nyata di mana aku sedang melamun sendiri sembari mengaduk kopi yang sudah terlalu dingin untuk diminum.

Rabu, 16 Oktober 2013

Postingan yang Isinya Cuman Ngasih Kabar

Permintaan maaf saya haturkan kepada seluruh pengunjung blog gua yang sepertinya udah ngga sudi lagi untuk menuliskan alamat blog saya di kolom URL browser-nya dikarenakan gua udah mulai jarang (baca: ngga pernah lagi) mengisi blog gua saat ini. Gua udah lama ngga memposting tulisan ke blog gua ini dikarenakan kesibukan gua yang sangat lebih dibandingkan saat gua masih rajin untuk menulis di blog. Mungkin setelah kalian membaca kalimat sebelumnya, di pikiran kalian akan keluar pertanyaan seperti  “apa saja sih, kesibukan si kampret ini?” Atau mungkin “si kampret ini kerjaannya apaan, ya?” bahkan bisa saja seperti “kenapa kisah Romeo dan Juliet harus berakhir dengan kematian keduanya, sih?”. Oke! Pertanyaan itu akan gua jawab satu-persatu.

Gua mulai dari pertanyaan pertama. Kesibukan gua saat ini adalah tidur. Yups! Jadi hari-hari gue ngga jauh dari kegiatan itu. mulai dari pagi hari setelah bangun tidur (gue ngga tahu gimana gue bisa bangun tidur padahal aslinya gue masih merasa tidur) gue langsung berangkat ke kampus untuk kuliah (baca : pindah tidur di kampus). Setelah perkuliahan selesai gua pulang ke rumah untuk kembali tidur sampai pagi hari. Coba bayangin kapan waktu gue untuk nulis di blog kalo gue sesibuk itu. gue bahkan ngga tahu kapan gua makan, mandi, dan melakukan hal-hal kemanusiaan lainnya.

Minggu, 05 Mei 2013

UIN, TACL Tour, Rian Adriandhy... Rules of Three???

Kalian semua tahu, kan, Rian Adriandhy?! Enggak tahu ya? Coba googling dulu sebentar… udah? Meskipun kalian enggak tahu siapa Rian Adriandhy, paling enggak kalian tahu Stand Up Comedy, deh! Enggak tahu juga? Silahkan google lagi deh pake keyword “stand up comedy Indonesia”. Karena kali ni gue mau ngebahas dua hal di atas.

Buat yang udah suka stand up comedy sejak lama, kalian pasti sudah mengenal siapa itu Rian Adriandhy dari acara Stand Up comedy Kompas TV season pertama. Tapi kalo kalian enggak begitu mengikuti perkembangan stand up comedy di Indonesia, kalian mungkin mengenal Rian (panggilan akrabnya) dari acara webisode milik Raditya Dika, Malam Minggu Miko. Dalam acara Malam Minggu Miko, Rian sendiri berperan sebagai Rianto Martino yang juga memiliki nama panggilan Rian. Peran Rian dalam acara tersebut adalah sahabat baik dari Miko (Raditya Dika). Akan tetapi gue gak akan cerita tentang Rian yang ada dalam Malam Minggu MIko, tapi cerita Rian yang baru saja melakukan tour stand up comedy yang berjudul Take a Closer Look The Tour. Sebagai persinggahan pertama dari tour tersebut, Rian memilih Yogyakarta, dan gue datang sebagai saksi mata atasnya.